Aku merenungkan suatu hal yang mungkin juga direnungkan banyak orang yang telah lama berkecimpung di dunia rekayasa perangkat lunak, namun telah sadar diri bahwa ada titik kesulitan di dalam menguasai sebuah bahasa pemrograman. “Mengapa aku sulit mendapatkan ruh bahasa pemrograman yang aku idam-idamkan untuk aku kuasai?”, mungkin itu pertanyaan yang selalu berputar-putar di kepala seseorang yang belum menemukan jati dirinya di dalam pemrograman komputer. Aku juga bingung, mengapa minat yang besar terhadap suatu bahasa pemrograman komputer kadang tidak diimbangi dengan kecepatan.tingkat penguasaan terhadap bahasa pemrograman komputer tersebut. Menurutku, seharusnya semakin besar minat terhadap suatu bahasa pemrograman komputer maka akan semakin besar pula akselerasi penguasaan terhadap bahasa pemrograman komputer tersebut. Namun kenyataannya tidak demikian, aku akui secara terang-terangan bahwa aku tidak menguasai secara penuh tentang bahasa pemrograman komputer, satupun tidak ada yang aku kuasai secara penuh, entah itu Bahasa C, C++, Java, Visua basic, ataupun semacam Javascript dan PHP. Ibaratnya, aku hanya tahu kulitnya, tanpa menyentuh bijinya, apalagi menanam bijinya agar berbuah lebih banyak lagi. Secara garis besar apa yang aku alami dan renungkan ini adalah implikasi dari hal yang aku anggap memalukan sebagai seorang mahasiswa Teknik Informatika, yang notabene pada masa kuliahnya digerojok dengan materi-materi kuliah berbagai bahasa pemrograman komputer. Apakah aku akan menyalahkan sistem perkuliahanku?, tidak. Apakah aku menyalahkan kemampua otakku?, tidak juga. Apakah aku menyalahkan kurang sarana dan prasarana untuk mempelajari bahasa pemrograman komputer?, jelas tidak mungkin.
